Tampilkan postingan dengan label CerpenCerpenSaya =D. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CerpenCerpenSaya =D. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 November 2012

Sahabat Terbaik (CERPEN)

Holaa, saya datang kembali! Nggak bosen kan? Nggak dong pastinya. Yap, kali ini aku akan ngepost cerpen yang menyedihkan. Ini repost guys! Cekidot!

"Persahabatan bukan hanya sekedar kata, 
yang ditulis pada sehelai kertas tak bermakna,
 
tapi persahabatan merupakan sebuah ikatan suci,
 
yang ditoreh diatas dua hati,
 
ditulis dengan tinta kasih sayang,
 
dan suatu saat akan dihapus dengan tetesan darah dan mungkin nyawa"..

**
“Key… sini dech cepetan, aku ada sesuatu buat kamu”, panggil Nayra suatu sore.
 
“Iya, sebentar, sabar dikit kenapa sich?, kamu kan tau aku gak bisa melihat”, jawab seorang gadis yang dipanggil Key dari balik pintu.

Keynaya Wulandari, begitulah nama gadis tadi, meskipun lahir dengan keterbatasan fisik, dia tidak pernah mengeluh, semangatnya menjalani bahtera hidup tak pernah padam. Lahir dengan kondisi buta, tidak membuatnya berkecil hati, secara fisik matanya tidak bisa melihat warna-warni dunia, tapi mata hatinya bisa melihat jauh ke dalam kehidupan seseorang. Mempunyai hoby melukis sejak kecil, dengan keterbatasannya, Key selalu mengasah bakatnya. Tak pernah sedikitpun dia menyerah.

Duduk di bangku kelas XII di sebuah Sekolah Luar Biasa di kotanya, Keynaya tidak pernah absen meraih peringkat dikelas, bahkan guru-gurunya termotivasi dengan sifat pantang menyerah Key. Sejak baru berusia 3 tahun, Keynaya sudah bersahabat dengan anak tetangganya yang bernama Nayra Amrita, Nayra anak seorang direktur bank swasta di kota mereka. Nayra cantik, pinter dan secara fisik Nayra kelihatan sempurna.

***
Seperti sore ini, Nayra sudah nangkring di rumah Key. Dia berbincang-bincang dengan Key, sambil menemani sahabatnya itu melukis.
“Key, lukisan kamu bagus banget, nanti kamu ngadain pameran tunggal ya, biar semua orang tau bakat kamu”, kata Nayra membuka pembicaraan.
 
“Hah”, Key mendesah pelan lalu mulai bicara, “Seandainya aku bisa Nay, pasti sudah aku lakukan, tapi apa daya, aku ini gak sempurna, seandainya aku mendapat donor kornea, dan aku bisa melihat, mungkin aku bahagia dan akan mengadakan pameran lukisan-lukisanku ini” ucap Keynaya dengan kepedihan.
“Suatu hari nanti Tuhan akan memberikan anugrahnya kepadamu, sahabat, pasti akan ada yang mendonorkan korneanya untuk seorang anak sebaik kamu,” timpal Nayra akhirnya.

Berbeda secara fisik, tidak pernah menjadi halangan di dalam jalinan persahabatan antara Nayra dan Keynaya, kemana pun Nayra pergi, dia selalu mengajak Key, kecuali sekolah tentunya, karena sekolah mereka berdua kan berbeda.

Sedang asik-asiknya dua sahabat ini bersenda gurau, tiba-tiba saja Nayra mengeluh,
“aduuh, kepala ku”
“Kamu kenapa Nay, sakit??” tanya Keynaya.
“Oh, ngga aku gak apa-apa Key, Cuma sedikit pusing saja”, ucap Nayra sambil tersenyum.
“Minum obat ya Nay, aku gak mau kamu kenapa-napa, nada bicara Key terdengar begitu khawatir.
“aku ijin pulang dulu ya Key, mau minum obat” ujar Nayra sambil berpamitan pulang.

Di kamarnya yang terkesan sangat elegan, nuansa coklat mendominasi di setiap sudut ruangan, Nayra terduduk lemas di atas ranjangnya,
“Ya Tuhan, berapa lama lagi usiaku di dunia ini?? Berapa lama lagi malaikatmu akan menjemputku untuk menghadapmu?” erang hati Nayra.
Di vonis menderita leukimia sejak 7 bulan lalu dan tidak akan berumur lama lagi sungguh menyakitkan bagi Nayra, usianya yang baru 18 tahun, dengan segudang cita-cita yang dia inginkan, sudah pasti tak satupun akan terwujud.

***
Pintu kamar Nayra tiba-tiba terbuka, seorang wanita cantik paruh baya masuk lalu duduk disampingnya.
 
“Gimana rasanya sayang? Masih gak enak?? Kita ke dokter sekarang yuk!!!” ujar wanita itu dengan lembutnya.
“ngga usah, ma, aku sudah enakan kok, aku cuma mau beristirahat saja”, jawab Nayra dengan sopan.
 
“ya sudah kalau begitu, mama tinggal dulu ya, istirahat ya, Nak,” ujar sang mama sambil mencium kening putri semata wayangnya.
“Makasih ma, aku selalu sayang mama,” lirih Nayra berujar.
Terus terang Nayra sudah tidak kuat menahan rasa sakitnya, tapi dia berusaha menyembunyikan itu dari orang tuanya.

Di ruang keluarga, ibu Rita, duduk sambil menemani sang suami sepulangnya dari kantor,
“Ma, Nayra kemana?? Kok papa gak melihatnya dari tadi?” tanya sang suami.
“Nayra lagi istirahat pa, dia pusing dan mengeluh sakit dari tadi”, jawab Rita.
“Sakit apa sebenarnya anak kita ma?? Kalau kita ajak ke dokter dia selalu menolak, papa rasa ada yang dia sembunyikan dari kita, aku takut penyakitnya parah,” dengan nada khawatir pak Artawan bicara dengan istrinya.
 
“entahlah pa, mama juga bingung” ujar istrinya lagi.

***
Ternyata sakit yang dirasakan Nayra sore itu adalah pertanda dia akan segera di panggil menghadap Tuhan, saat minta ijin untuk istirahat pada mamanya, kesehatan Nayra benar-benar drop, dengan panik kedua orang tua Nayra melarikan putrinya ke rumah sakit, setelah mendapat penanganan oleh tim dokter, Nayra sedikit terlihat tenang, namun mukanya terlihat pucat, sinar matanya terlihat begitu redup.
“Pak Artawan, bisa kita bicara sebentar di ruangan saya”, kata dokter Gunawan, yang juga merupakan dokter pribadi keluarga Artawan.
“Baiklah dok, “ sambut pa Artawan.

Setelah pak Artawan dan ibu Rita duduk di ruangan dokter Gunawan, mereka akhirnya mulai bicara,
 
“Maafkan saya sebelumnya pak, sebenarnya saya sudah tau penyakit yang diderita putri bapak sejak 7 bulan lalu, tapi karena putri bapak menyuruh saya merahasiakan penyakitnya kepada bapak dan ibu, saya gak bisa berbuat apa-apa. Putri bapak terkena leukimia,” ujar dokter Gunawan lirih.

Cukup lirih memang kata-kata dokter Gunawan, tapi mampu membuat jantung pak Artawan dan istrinya berdetak lebih cepat dari biasanya,
“Apa?? Leukemia? Separah apa dok??” keras nada suara pak Artawan.
“sudah parah pak, umur Nayra tidak akan lama” sambung dokter kembali.
Setelah berbicara lama dengan dokter, air mata tak pernah berhenti mengalir di pipi Rita. Dia begitu terpukul mendengar putrinya menderita penyakit itu.
“udah, ma, jangan nangis terus, pengobatan Nayra akan diusahakan, kita akan mengusahakan kesembuhannya, lebih baik kita berdoa, semoga Tuhan memberikan jalan terbaik buat keluarga kita”, hibur pak Artawan.
“mari kita tengok Nayra!!” ajaknya lagi.

Memasuki ruangan perawatan, ibu Rita berusaha menyembunyikan air matanya, dia tersenyum penuh kepedihan di samping ranjang putrinya,
“Mama, kenapa? Kok sedih begitu?” ujar Nayra lirih.
“Gak apa-apa sayang”, berbisik ibu Rita tak kuasa menahan air matanya.
“Maafkan Nayra, Ma, Pa, Nayra tak bermaksud membuat Mama dan Papa terluka seperti ini, Nayra hanya tak ingin menyusahkan kalian” Nayra berkata dengan terbata-bata.

Belum ada beberapa menit pak Artawan dan ibu Rita di kamar putrinya, tiba-tiba Nayra kejang-kejang. Dengan panik pak Artawan memanggil dokter Gunawan. Dokter Gunawan menangani Nayra lumayan lama, hingga akhirnya dokter Gunawan keluar, muka beliau kelihatan sangat sedih.
“Bagaimana anak saya, dok?” tanya pak Artawan.
“Maaf pak, kami disini sudah berusaha yang terbaik, tapi Tuhan berkehendak lain, Nayra sudah dipanggil menghadapNya” ucap dokter.
“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaakkk”, teriak ibu Rita isteris,“ Nayra tidak mungkin meninggal, Nayra masih hidup,” seluruh pengunjung rumah sakit menoleh ke arah mereka.
“Pak, sebelum meninggal, Nayra menitipkan ini ke saya, ini buat bapak dan ibu” imbuh dokter Gunawan sebelum mohon diri.

Sepeninggal Dokter Gunawan, pak Artawan dan istrinya membuka amplop kecil dari Nayra, isinya ternyata surat.
“Mama, papa, maafin Nayra sudah membuat mama dan papa jadi sedih, Nayra mohon sama mama dan papa, setelah Nayra meninggal, tolong berikan kornea mata Nay untuk Keynaya, tapi jangan bilang itu dari Nayra sebelum Keynaya benar-benar operasi dan bisa melihat lagi, dan satu lagi, mama tolong kasih Keynaya surat yang Nayra simpan di laci meja belajar Nayra yang amplopnya berwarna pink setelah Keynaya melihat nanti, dan surat buat mama dan papa ada di dalam amplop biru di laci yang sama. Sekian dulu Mama, papa, maaf kalau Nayra selalu ngerepotin kalian, Nayra sayang kalian, big kis & hug.. muacch”..
Nayra Amrita

Selain sepucuk surat itu, ada lagi sebuah surat pernyataan pendonoran kornea mata yang telah lengkap dengan tanda tangan Nayra.
Hati orang tua Nayra tersayat, tapi tak ada yang bisa mereka lakukan selain memenuhi permintaan terakhir sang anak.

***
Sementara itu, di rumah Keynaya, tampak gadis cantik itu tengah duduk seorang diri di teras rumahnya. Wajahnya tampak sedikit murung,
“kemana si Nayra, sudah lebih dari 5 hari dia gak main ke sini, apa dia baik-baik saja?” gumamnya.
“Ma, Nayra pernah kesini gak dalam beberapa hari ini?” tanya Keynaya ke pada mamanya. 
“Gak ada, Key, memang kenapa?” tanya sang mama.
“Gak apa-apa ma, aku ke rumah Nayra sebentar ya!!” Key meminta ijin ke mamanya.

Tapi diluar dugaan, mama Keynaya melarangnya pergi.
“Jangan Key, kita harus ke rumah sakit sekarang juga, tadi mama ditelepon sama pihak rumah sakit, katanya ada yang menyumbangkan korneanya khusus untuk kamu,” dengan tutur kata yang lembut mamanya menjelaskan.
“Yang bener, Ma? Key sudah dapat donor kornea?? Asik-asik, Key akan segera bisa melihat wajah Nayra, Key bisa segera menggelar pameran lukisan,” ucap Key berapi-api.
“Iya nak” jawab mamanya penuh kepedihan. “seandainya kamu tahu sayang, Nayra tak mungkin ada disamping kamu lagi, Nayra sudah tenang dialam sana, dan seandainya kamu tahu siapa orang yang mendonorkan korneanya untuk kamu” kata ibu Rasti dalam hati.

Waktu berjalan begitu cepat, operasi cangkok kornea sudah dilaksanakan dan sekarang adalah hari yang paling ditunggu-tunggu Keynaya, perban di matanya akan di buka, tim dokter beserta kedua orang tua Key sudah ada di ruangan Key. Sebelum perbannya di buka, Keynaya berujar,
“Ma, Pa, Nayra sudah datang?? Ku ingin sekali ada Nayra di sini pas aku bisa melihat”
“belum sayang, Nayra masih diluar kota” pedih rasanya hati ibu Rasti saat berujar.

Perban akhirnya di buka, samar-samar penglihatan Keynaya mulai melihat warna, melihat sosok kedua orang tuanya, dia tersenyum, semakin lama semakin jelas,
“Mama, papa aku bisa melihat kalian,” gembira sekali suara Keynaya.

***
Sudah 1 minggu semenjak Keynaya bisa melihat, hari ini dia memaksa ibunya agar diperbolehkan melihat Nayra, mengujungi Nayra,
“Kata mama Nayra sudah ada di rumah, berarti Key boleh main donk Ma, Key pingin ngajak Nayra jalan-jalan buat merayakan kesembuhan Key,”
“Iya, nak, mama sama papa temenin kamu ya!!”

Berbeda beberapa rumah antara Nayra dan Keynaya merupakan hal yang membahagiakan, tidak perlu capek-capek bermacet-macet ria di jalanan untuk mengunjunginya. Sesampai di rumah Nayra mereka disambut ramah oleh keluarga Nayra yang kebetulan lagi ada di rumah.
“Selamat sore tante Rita’” sapa Keynaya dengan senyum sumringah.
Setelah di persilahkan duduk dan menikmati hidangan ala kadarnya, Keynaya menanyakan keberadaan sahabat karibnya,
“mana Nayranya tante?? Kok gak kelihatan ada di rumah?”
“Nayranya… Nayra.. Nayra..” dengan terbata-bata ibu Rita menjawab.
“Nayra kenapa tante, kemana?? Nayra tidak apa-apa kan?” bertubi-tubi Keynaya bertanya.

Ibu Rita tak kuasa menjawab, beliau meninggalkan tamunya di ruang tamu dan berlari naik ke kamar Nayra, mengambil sepucuk surat yang dititipkan Nayra untuk Keynaya. Ibu Rita kembali ke ruang tamu dengan sepucuk surat di tangan,
“ini dari Nayra untuk kamu” ujarnya berlinang air mata kepada Keynaya.

Dengan tangan gemetar Keynaya membuka amplop berwarna pink yang cantik itu, ada pita pink juga di sudut amplonya.

Dear Keynaya

“Keynaya sayang, sahabatku yang paling baik, apa kabar hari ini?? Baik-baik sajakah?? Sehat-sehat?? Semoga sehat ya!! Key, saat kau membaca surat dari aku ini, mungkin aku sudah tak ada lagi di dunia ini, tak ada di samping kamu, tak bisa menemani kamu bermain, bercanda dan tertawa, maafkan aku ya Key.

Key sayang, sebenarnya aku ingin sekali cerita ke kamu tentang penyakitku, tapi aku takut membuat kamu kepikiran terus, takut buat kamu gelisah. Sebenarnya aku terkena penyakit leukemia, Key dan umurku tidak akan lama lagi.

Key sayang, meskipun aku telah pergi dari sisi kamu, tapi rasa sayang aku ke kamu tak akan pernah berubah, kamu sahabat terbaik di hidupku, kamu tempatku berkeluh kesah, tempatku menumpahkan suka dan duka. Key, ku tahu saat kau membaca ini, kau sudah bisa melihat indahnya dunia, sengaja ku berikan mataku untuk kamu Key, hanya itu yang bisa aku berikan, jaga mata itu seperti kau menjaga persahabatan kita.

Segitu dulu Key, maafkan aku karena harus pergi meninggalkanmu, terima kasih karena sudah memberikan aku arti selama hidup di dunia. Sampai ketemu suatu saat nanti Key, aku sayang kamu sahabatku.
Kiss and big hug my lovely friend, my best friend in my life….muaaachh…

Dariku yang selalu menyayangimu
Nayra Amrita

Air mata mengalir deras di pipi Keynaya,
“Ini tidak mungkin” katanya lirih. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar tak percaya, sahabatnya sudah kembali ke pangkuan Tuhan, Keynaya menatap selembar foto yang juga ada di dalam amplop surat tadi, foto Nayra tersenyum manis ke arahnya, mata Nayra yang teduh, sekarang ada padanya. Keynaya meminta agar kedua orang tua Nayra mengantarnya ke kuburan.

Lumayan jauh dari rumah Nayra, kaki Keynaya lemah, tapi dia berusaha mengikuti langkah kaki orang tuanya dan orang tua Nayra ke sebuah makan yang begitu tertata rapi, taburan bunga masih segar, tanah pekuburannya juga masih basah.
Sebuah Nisan yang begitu cantik dihadapan Keynaya, membuatnya semakin terluka, jelas tersurat di batu nisan berwarna putih itu nama sahabat karibnya.

“Nayra Amrita Artawan”
Lahir 8 Januari 1994
Wafat 14 April 2011

Berjongkok Keynaya membelai nisan itu, gerimis turun membasahi nisan, semakin lama semakin deras, sederas airmata yang jatuh di pipi Keynaya,
“Kenapa secepat ini kau tinggalkan aku, Nay?? Tega kamu?? Meninggalkan aku seorang diri disini. Nayra, terima kasih sayang, kau telah memberikan aku sepasang mata untuk melihat dunia ini, terima kasih karena telah mengajariku tentang ketulusan sebuah persahabatan, terima kasih atas senyum termanis yang pernah kau hadirkan di hidupku” ucap Keynaya sambil terisak lirih di atas nisan.

Tangan lembut Pak Andi terulur ke arah putrinya,
“Bangun Key, sudah, ikhlaskan saja Nayra, dia sudah tenang di sana, dia sudah berada di pangkuan Tuhan, yang harus kamu tahu, Nayra tak pernah ingin kamu cengeng, kamu harus tetap semangat menjalani hidup kamu,” bimbing Pak Andi.
“Iya pa, terima kasih, aku hanya sedih saja, tapi aku janji gak akan cengeng lagi setelah hari ini”, kata keynaya.




Terimakasih! :)

Kamis, 22 Maret 2012

Secret Admirer


                Aku menatap kertas putih, memegang pensil dan menggambarkan sesosok cowok yang sedang mengusik damainya hatiku. Sesosok pangeran yang kudambakan. Aku berniat melukiskan wajahnya seganteng mungkin, namun setelah kuamati inci demi inci gambaran ituhanyalah mirip tuyul, karena aku tidak bisa menggambar. Kuremas kertas itu dan kumasukkan ke dalam tempat sampah yang berada di samping meja belajarku.
                Aku berjalan menuju tempat tidurku, merebahkan tubuhku. Kemudian kukumpulkan seluruh imajinasiku untuk melukiskan wajah pangeranku di langit-langit kamarku. Kak Rio adalah pangeran yang sedang mengisi relung hatiku. Dia adalah wakil ketua OSIS sekaligus kapten tim basket inti sekolahku. Kebijaksanaan, kebaikan, dan ketampanannya membuat banyak cewek menaruh hati padanya. Tapi yang membuatku salut dengannya adalah, sikap cueknya. Ia tidak peduli jika ada cewek-cewek yang berusaha mendekatinya, secantik apapun cewek itu. Semakin lama lukisan di alam imajinasiku pun semakin jelas, kubayangkan dia sedang tersenyum manis padaku. Namun tak lama kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku. Seketika itu juga, lukisan indah wajah Kak Rio hilang. *kayak apa aja #ngook
                “Fy, dicari temanmu itu!” kata mamaku sembari mengetuk pintu.
                “ Iya Ma…” aku bangkit dari tempat tidurku dan bergegas ke ruang tamu.
                “Kak Rio…” sapaku pada seorang cowok berkaos putih itu.
                “Hah? Kak Rio? Kamu ngelindur ya? Aku Iyel sahabat kamu,” kata Iyel.
                Seketika itu pun wajahku menjadi geragapan. Aku masih terbawa lamunanku tentang Kak Rio. Wajahku memerah dan Iyel pun terlihat heran karena aku salah tingkah.
                “Oh… Em, sorry Yel !”
                “Makanya jadi orang jangan suka ngelamun terus!”
                “Iya-iya sorry. By the way, ngapain kamu kesini malem-malem?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
                “Ifyyyy, kamu amnesia ya? Kan kamu yang nyuruh aku balikin buku catetan kimiamu sekarang juga. Besok kan ulangan kimia!!” kata Iyel dengan jengkel.
                “Oh, iya! Sorry aku lupa, hehehe”
                “Gila… pikunmu parah banget!” Iyel pun terdiam, dan sejenak tak ada pembicaraan.
                “Fy, kamu suka ya sama Kak Rio?” tanya Iyel.
                “Eng, enggak kok. Siapa bilang? Nggak mungkinlah aku suka sama dia. Secara, aku tuh bukan levelnya dia. Banyak cewek yang cantik dan popular di sekolah yang udah antri untuk jadi ceweknya! Mau jadi apa aku nanti, cewek cupu seperti aku disandingkan dengan cowok terpopuler di sekolah!”
                “Halah.. nggak usah bohong deh! Aku tuh sahabatmu, jadi aku tau sikapmu nunjukin kalo kamu suka sama dia! Bagiku, kamu itu tak secupu yang kau bayangkan. Kamu itu cantik.”
                Aku tersenyum malu. Ternyata aku tak dapat menyembunyikan perasaanku dari Iyel, sahabatku sejak SD.
                “Aaah udah, nggak usah dibahas lagi!” gerutuku sambil cemberut.
                “Hm, ditanyain gitu aja langsung cemberut kayak marmut. Ya udah kalo nggak mau ngaku sih nggak apa-apa, aku udah tau jawabannya kok! Ya udah, aku pulang dulu ya! Udah malem nih,” kata Iyel sambil berjalan menuju pintu.
                “Buru-buru amat?” tanyaku mengikuti langkahnya menuju pintu.
                “Aku juga mau belajar, besok kan mau ulangan! Aku pulung dulu ya! Selamat malam peri cantik!” Iyel malangkahkan kaki keluar rumahku.
                “Yups, hati-hati ya!”
                “Ok!” jawab Iyel dari kejauhan.
                “Peri cantik?” pikirku dalam hati saat teringat kata-kata Iyel tadi.
                Aku tidak begitu mempedulikan ucapan Iyel itu, meskipun rasanya agak ganjil. Tak biasanya dia memanggilku begitu. Aku kembali masuk ke dalam rumah, mengambil buku catatan kimia yang tergeletak di meja dan segera kembali ke kamarku untuk belajar karena besok ulangan.
***
                Aku berangkat pagi sekali ini, sekolah masih tampak sepi. Di ruang kelasku baru 3 orang yang berangkat. Saat aku berjalan mendekati bangkuku, aku dikejutkan oleh amplop berwarna pink yang tergeletak di meja. Tanpa berpikir panjang, aku langsung membukanya. Kutarik secarik kertas yang berada di dalamnya.
                ‘Selamat pagi, Perhiasan dunia yang terindah’
                Kalimat indah yang tertulis cukup rapi diselembar kertas itu. Kulihat disekeliling kalimat itu,sudah tak ada coretan apapun, padahal aku ingin tau siapa orang yang telah mengirimkan surat ini.
                Tak lama kemudian ruang kelas menjadi ramai, karena sebagian besar siswa sudah datang. Shilla yang baru 1 menit tiba di kelas, langsung menuju tempat duduknya, disampingku. Sebelum meletakkan tasnya, dia melihat ada sesuatu yang menarik di tanganku, tanpa berkata apapun dia langsung mengambil surat itu dari tanganku dan membacanya.
                “Surat dari siapa nih? Sweet amat isinya!”
                “Aku juga nggak tahu, tuh surat dah ada di sini sebelum aku berangkat!”
                “That’so amazing.. You have a secret admirer!” teriak Shilla.
                “Ssst.. jangan keras-keras! Lebay banget sih!”
                Akibat tingkah Shilla yang berlebihan, Angel, cewek yang paling judes sama aku, yang sering ku panggil dengan sebutan Nenek Lampir itu mendekat. Aku dapat menerka, pasti dia akan menghinaku, karena kerjaannya emang menghina orang lain, yang dianggapnya nggak level dengan kepopulerannya.
                “Apa? Penggemar rahasia? Paling cuma cowok culun yang suka sama kamu!” kata Angel dengan judes, yang kemudian meninggalkanku karena penggilan temannya.
                “Untungnya si Nenek Lampir itu cepat pergi! Panas kupingku kalo dia lama-lama di sini,” kataku dalam hati.
                Aku langsung memasukkan surat itu ke dalam tasku, tanpa berkata apapun kepada Shilla yang sudah duduk bersamaku. Mungkin dia merasa bersalah, akibat tingkahnya, aku di maki-maki Angel.
                Di kelas aku tidak bisa konsentrasi pada pelajaran. Surat tak bertuan itu, membuat otakku berpikir keras, menerka kemungkinan-kemungkinan siapa pengirim surat itu. Sampai di rumah pun aku langsung membacanya berkali-kali mengamati dengan jeli tulisan tangan itu. Tetap saja, aku tak punya tebakan yang pas, meskipun aku telah membacanya 24 kali.
                “Mungkin nggak ya, kalo surat ini dari Kak Rio?” tanyaku dalam hati, “Tidak mungkin, wake up Ify! Jangan ngimpi deh kalo surat ini dari Kak Rio!”
***
                Sudah 3 kali aku mendapat surat dan isinya sama. Hal ini menambah kebingunganku. Namun surat yang ke-4, datang dengan cara yang berbeda. Angel yang membawa surat itu.
                “Fy, nih surat dari penggemar kamu itu?” ucap Angel menatap sinis sambil memeberikan sepucuk surat kepadaku.
                “Kok kamu yang bawa?” tanyaku heran.
                “Tadi aku berangkat pagi, dan aku mergokin orang yang ngasihin surat ini di mejamu! Hm, ternyata benar apa yang kukatakan, paling cuma cowok culun yang mau sama cewek kaya kamu!”
                “Emang siapa pengirimnya?”
                “Obiet, cowok culun kelas X A. Hahaha, Ify, Ify.. kasihan amat sih nasibmu! Dari SMP nggak pernah ada satu pun cowok yang suka sama kamu! Giliran ada aja, cowok culun dongos pula!” ejek Angel.
                “Heh Nenek Lampir! Kamu nggak berhak bilang gitu sama Ify. Kamu pikir, kamu lebih cantik daripada Ify? Kamu pikir, kamu lebih pinter daripada dia? Enggak! Mungkin kamu emang cantik, tapi hatimu nggak secantik wajahmu! Jadi kamu nggak usah sok gitu deh! Ify tuh jauh lebih sempurna daripada kamu!” bentak Iyel yang baru saja datang.
                Aku bisa merasakan, betapa marahnya Iyel pada Angel, karena Angel menghinaku. Ruang kelasku menjadi sunyi, semua anak memperhatikan pertengkaran Iyel dan Angel. Tanpa berkata apapun, aku langsung meninggalkan mereka. Hatiku tersayat mendengar ucapan Angel, tapi aku menenangkan diriku agar tidak menangis, karena aku bukanlah cewek yang cengeng. Tak lama kemudian, Iyel dan Shilla berlari menyusulku.
                “Fy, kamu nggak apa-apa kan?” tanya Shilla.
                “Nggak apa-apa kok, aku udah biasa ngadepin Nenek Lampir itu! Dia kan dulu satu SMP denganku.”
                “Kamu mau kemana?” Iyel berdiri di depanku.
                “Aku mau nemuin Obiet.”
                “Kamu mau marahin dia?” tanya Iyel kembali.
                “Nggak kok, aku cuma mau minta penjelasan dia aja, kalo apa yang dia lakukan, itu hak asasi dia, yah.. walaupun sedikit menggangguku.”
                Kami bertiga meneruskan perjalanan ke kelas X A yang tak jauh dari kelasku, X D. aku melihatnya sedang asyik ngobrol sama Kak Rio di depan kelasnya. Adanya Kak Rio menyurutkan semangatku untuk mengintrogasi Obiet. Namun, aku mencoba melangkahkan kakikumendekati Obiet, meskipun rasanya amat berat.
                “Biet…” tegurku.
                “Iff, Ify? Ada apa?” tanyanya yang terlihat gugup.
                “Aku mau ngomong sama kamu!” Aku berbicara pada Obiet tanpa melirik orang yang sedang ada di sampingnya, aku merasa canggung di depan Kak Rio.
                “Em, ngomong apa Fy?” tanyanya sambil membenarkan posisi kacamatanya.
                “Kurasa, bukan disini tempatnya!”
                “Kenapa nggak disini aja?” tanya Kak Rio spontan.
                Jantungku berdegup kencang. Aku tak menyangka Kak Rio tau tentang ini. Mukaku memerah karena salah tingkah. Sulit bagiku untuk mengeluarkan beberapa patah kata lagi. Kakiku seakan terpaku di tempat itu, sehingga aku sulit tuk beranjak pergi. Pada saat itu aku berharap Shilla dan Iyel akan menyeretku pergi dari tempat ini, tapi mereka dari tadi juga hanya diam saja.
                “Tentang surat itu ya, Fy? Pasti Angel yang kasih tau,” kata Obiet mengawali pembicaraan yang sempat terhenti.
                “Em…”
                “Kamu marah sama aku?”
                “Eng.. enggak kok, aku cuma pengen minta penjelasanmu aja tentang surat itu!” Aku senang akhirnya bisa berbicara kembali.
                “Sebenernya.. Sebenernya.. Em..”
                “Sebenernya aku yang nyuruh Obiet naruh surat itu di meja kamu!” potong Kak Rio disela-sela ucapan Obiet yang terbata-bata.
                Semua ini sulit kupercayai. Aku merasa sedang berada dalam mimpiku. Aku mencoba mencubit tanganku sendiri dan terasa sakit, berarti ini nyata, benar-benar nyata. Kak Rio menarik tanganku menuju ke taman sekolah. Iyel dan Shilla terdiam di tempatnya, mungkin mereka juga terkejut sama sepertiku.
                “Ify? Kenapa diem? Maaf kalo apa yang kulakukan salah. Aku cuma pengen tau, gimana reaksi kamu, jika ternyata surat itu dari Obiet. Tapi dari reaksimu yang nggak marah pada Obiet, aku jadi tau, kamu benar-benar cewek yang baik. Kalau cewek lain pasti sudah memaki-maki Obiet, dan mengatakan Obiet cowok yang tidak tau diri, culun lah, nggak level lah, dongos lah, atau apa lah. Tapi kamu nggak, kamu bener-bener beda sama yang lain! Aku suka sama kamu!” Kak Rio menatapku lekat-lekat.
                “Apa? Kakak.. nggak bohong kan?” tanyaku dengan hati-hati.
                “Nggak kok. Selama ini aku juga sering perhatiin kamu. Aku salut sama kamu. Kamu tuh cewek yang baik, cantik, dan berpenampilan sederhana! Itu yang buat aku suka sama kamu! Ify, would you be my girl? I love you!”
                Aku terkejut mendengar pernyataan cinta Kak Rio. Sungguh tak kusangka, jika ia telah lama memperhatikanku. Aku ingin mengatakan ‘yes, I would’ tapi aku ragu. Dia meyakinkanku, dengan memegang kedua tanganku.
                “Em.. yes I would! Selama ini sebenernya aku juga suka sama Kak Rio!”
                Sungguh tak kusangka, hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan. Semua hal yang ku kira hanya akan menjadi angan-angan belaka ternyata menjadi kenyataan. Ternyata, pengirim surat yang berisi kata-kata manis itu adalah cowok yang selama ini kudambakan.
                ‘Ternyata, jika kita tidak putus asa, kita akan mendapatkan hal yang kita inginkan, yang selalu kita mimpikan. Seperti cinta, yang kadang menghilang, kadang datang lagi. Jika kita menginginkan cinta yang tulus, kita tidak boleh menyerah dan selalu berusaha.’ :)


Heiii, udah jadi niihh, jelek *pastinya :D
Daaaaaa, :)